Koreksi Kesalahan Jurnal dan Buku Besar

- Posted in Akuntansi by

Pada waktu menjurnal dan pada waktu melakukan posting ke buku besar kadang-kadang bisa saja terjadi kesalahan.

Kesalahan-kesalahan semacam itu tidak boleh dikoreksi dengan cara menghapus, sebab bekas-bekas menghapus akan menimbulkan kecurigaan seakan-akan telah terjadi kecurangan atau ketidak-beresan.

Prosedur untuk melakukan koreksi kesalahan bisa bermacam-macam tergantung pada jenis kesalahan dan saat ditemukannya kesalahan.

Apabila kesalahan berupa salah menulis nama rekening atau salah menulis jumlah dalam jurnal yang ditemukan sebelum dilakukan posting ke buku besar, maka koreksinya dapat dilakukan dengan menarik garis lurus di atas jurnal yang salah tersebut.

Hal seperti itu bisa juga dilakukan dengan tinta merah.

Jadi agar pembukuan tetap kelihatan rapi maka pencoretan supaya dibuat dengan garis lurus.

Setelah itu di atas jurnal yang salah segera ditulis ayat jurnal yang benar.

Apabila kesalahan menjurnal sudah terlanjur dibukukan (diposting) ke buku besar maka cara koreksinya harus dilakukan dengan membuat jurnal koreksi.

Sebagai contoh, apabila pengeluaran kas Rp 1.000.000,00 untuk membeli Perlengkapan Kantor telah dijurnal dan dibukukan dengan mendebet Peralatan Kantor, maka kesalahan ini harus dikoreksi melalui jurnal koreksi.

Untuk membuat jurnal koreksi, terlebih dahulu harus diketahui dua hal sebagai berikut:

  1. Jurnal yang telah dilakukan (jurnal yang salah).
  2. Jurnal yang seharusnya dilakukan (jurnal yang benar).

Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat dalam kutipan rekening buku besar berikut:

Atas dasar jurnal yang salah
Atas dasar jurnal yang benar

Dengan membandingkan rekening-rekening di atas jelaslah bahwa karena kesalahan terjadi dalam debet rekening Peralatan Kantor maka rekening tersebut harus dikredit sebesar Rp 1.000.000,00 dan rekening yang seharusnya yaitu Perlengkapan Kantor harus didebet sebesar Rp 1.000.000,00.

Jurnal koreksinya adalah sebagai berikut:

Apabila jurnal koreksi di atas dibukukan ke buku besar maka akibat kesalahan pendebetan rekening Peralatan Kantor Rp 1.000.000,00 akan hapus (atau menjadi bersaldo nol) karena sudah dikredit kembali sebesar Rp 1.000.000,00 dan sebaliknya rekening Perlengkapan Kantor pada buku besar akan menunjukkan jumlah yang seharusnya yaitu sebesar Rp 1.000.000,00 karena sudah didebet dengan adanya jurnal koreksi, demikian semoga bisa dipahami.

Kesalahan Pembukuan

- Posted in Akuntansi by

Kesalahan pembukuan bisa terjadi pada setiap tahapan dalam proses akuntansi.

Kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam pencatatan di buku besar dapat ditemukan melalui beberapa cara, antara lain melalui prosedur pemeriksaan pembukuan, ditemukan secara kebetulan, atau dapat juga diketahui melalui neraca saldo.

Kesalahan pembukuan dapat dilihat dari ditemukannya ketidakseimbangan antara jumlah saldo debet dan jumlah saldo kredit pada neraca saldo.

Cara yang terbaik untuk dapat menemukan kesalahan dengan segera adalah dengan cara selalu meneliti kembali setiap kali melakukan pencatatan baik di dalam jurnal maupun di buku besar.

Akan tetapi bila hal ini tidak mungkin dilakukan, misalnya karena bagian pembukuan sangat sibuk maka cara yang tepat adalah menelusur kembali proses akuntansi, yaitu dengan meneliti kembali mulai dari neraca saldo sampai pada jurnal.

Langkah-langkah untuk menelusur adalah sebagai berikut:

  1. Periksa kebenaran penjumlahan kolom-kolom debet dan kredit neraca saldo dengan cara mengadakan penjumlahan ulang.
  2. Bandingkan nama-nama rekening yang tertulis pada kolom nama rekening di neraca saldo dengan rekening-rekening yang ada di buku besar untuk memeriksa apakah tidak ada rekening yang terlewat dicantumkan di neraca saldo.
  3. Periksalah kebenaran penjumlahan sisi debet dan sisi kredit rekening-rekening di buku besar dan periksa pula perhitungan saldonya.
  4. Bandingkan semua angka yang ada di buku besar dengan angka-angka yang tercantum dalam jurnal. Setiap kali melakukan pencocokkan supaya diberi tanda, baik dalam buku besar maupun dalam jurnalnya. Bila kesalahan belum juga ditemukan, perhatikan apakah ada angka-angka di dalam buku besar atau jurnal yang belum diberi tanda.
  5. Periksalah kesamaan jumlah debet dan kredit di dalam jurnal.

Apabila neraca saldo sudah seimbang maka kegiatan akuntansi selanjutnya dapat dilakukan.

Akan tetapi apabila neraca saldo tidak seimbang, maka kegiatan pembuatan laporan keuangan tidak dapat dilakukan sampai penyebab kesalahan ditemukan dan koreksi kesalahan dilakukan sebagaimana mestinya.

Posting

- Posted in Akuntansi by

Posting adalah proses memindahkan ayat-ayat jurnal yang telah dibuat dalam buku jurnal ke buku besar, yaitu memindahkan jumlah dalam kolom sisi debet dan jumlah kolom sisi kredit yang ada dalam jurnal ke dalam kolom sisi debit dan kolom sisi kredit masing-masing rekening di dalam buku besar.

Saya ingin mengingatkan kembali pada teman-teman, perlu diingat bahwa nama rekening yang digunakan dalam jurnal harus sama dengan nama rekening yang digunakan di dalam buku besar.

Urut-urutan kegiatan memindahkan ke rekening buku besar ini harus sejalan dengan urut-urutan mendebit dan mengkredit dari jurnal.

Perusahaan-perusahaan besar biasanya posting ke buku besar dilakukan dengan menggunakan mesin pembukuan atau secara otomatis dilakukan dengan komputer.

Apabila posting dilakukan dengan (dengan cara manual), maka cara yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

  • 1) Tanggal dan jumlah yang dicatat dalam jurnal dicatat kembali dalam rekening yang bersangkutan di buku besar. Apabila suatu jumlah sisi debet pada jurnal harus dipindahkan ke jumlah sisi debet di rekening bersangkutan di buku besar, begitu pula jumlah sisi kredit dalam buku jurnal harus dipindahkan ke jumlah sisi kredit pada rekening bersangkutan di buku besar. Aturan untuk mencatat tahun, bulan dan tanggal, dilakukan sama dengan yang dilakukan di buku jurnal.
  • 2) Apabila posting telah dilakukan, maka nomor halaman jurnal harus dituliskan dalam kolom F (folio) di rekening.
  • 3) Langkah berikutnya adalah menuliskan nomor rekening yang telah diposting pada kolom Nomor Rekening yang ada dalam jurnal. Prosedur ini mempunyai dua tujuan, yaitu:
  1. a) Untuk menunjukkan bahwa jurnal tersebut telah diposting.
  2. b) Untuk menunjukkan hubungan antara jurnal dan rekening di buku besar.

Nama Rekening dalam Jurnal

- Posted in Akuntansi by

Transaksi-transaksi akuntansi yang terjadi dalam perusahaan harus dicatat dalam jurnal dengan menuliskan nama rekening yang didebet dan nama rekening yang dikredit sesuai dengan peraturan pendebetan dan pengkreditan yang telah dibahas dalam artikel sebelumnya.

Penggunaan nama rekening yang dipakai pada saat transaksi dicatat dalam jurnal harus sama dengan nama rekening yang digunakan ketika mencatat di buku besar.

Sebagai contoh misalnya perusahaan menerima uang, maka nama rekening yang harus digunakan adalah rekening Kas dan bukannya rekening Terima uang, perusahaan membeli peralatan kantor, maka nama rekening yang harus digunakan adalah Peralatan kantor dan bukannya Beli peralatan kantor.

Jurnal yang dibuat untuk suatu transaksi disebut ayat jurnal.

Antara ayat jurnal yang satu dengan ayat jurnal yang lainnya hendaknya diberi jarak satu baris sehingga jelas terlihat batas antara jurnal satu dengan yang lainnya.

Kolom nomor rekening tidak diisi pada saat menjurnal tetapi kolom ini diisi dengan nomor rekening setelah jurnal tersebut dicatat dalam rekening-rekening yang bersangkutan di buku besar.

Dengan cara demikian maka akan dapat diketahui mana jurnal-jurnal yang telah dibukukan ke buku besar dan mana jurnal-jurnal yang belum dibukukan ke dalam buku besar.

Bentuk Jurnal

- Posted in Akuntansi by

Dalam praktek akuntansi dikenal berbagai bentuk jurnal, dari bentuk yang sederhana sampai pada bentuk yang rumit.

Sedangkan dalam artikel ini saya akan membahas tentang bentuk jurnal yang sederhana terlebih dahulu atau biasa disebut dengan jurnal dua kolom.

Sebenarnya kolom yang terdapat dalam jurnal ini lebih dari dua buah, disebut jurnal dua kolom karena kolom yang tersedia untuk mencatat jumlah rupiahnya hanya dua, yaitu satu kolom untuk mencatat jumlah rupiah yang didebet, dan satu kolom lagi untuk mencatat jumlah rupiah yang dikredit.

Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah contoh jurnal dua kolom:

Keterangan:

  • Kolom (1) : untuk mencatat tanggal terjadinya transaksi. Kolom ini terbagi atas dua bagian. Bagian kiri digunakan untuk mencatat tahun dan bulan, sedangkan bagian kanan untuk mencatat tanggal.
  • Kolom (2) : untuk mencatat nama rekening yang didebet dan nama rekening yang dikredit. Dalam kolom ini dicatat juga keterangan atau uraian singkat tentang transaksi yang dicatat.
  • Kolom (3) : untuk mencatat nomor rekening yang didebet maupun rekening yang dikredit.
  • Kolom (4) : untuk mencatat jumlah rupiah yang harus didebetkan ke dalam rekening yang namanya telah tertulis pada kolom (2).
  • Kolom (5) : untuk mencatat jumlah rupiah yang harus dikreditkan ke dalam rekening yang namanya telah tertulis di kolom (2).

Proses mencatat transaksi ke dalam jurnal disebut menjurnal.

Prosedur yang harus diikuti dalam menjurnal adalah sebagai berikut :

  1. Tahun ditulis pada baris pertama. Tahun biasanya tidak ditulis satu kali pada suatu halaman apabila tahun tidak berganti.
  2. Nama bulan ditulis untuk transaksi yang pertama terjadi dalam bulan yang bersangkutan pada bagian atas halaman yang baru atau pada awal bulan yang baru. Jadi nama bulan hanya ditulis satu kali pada halaman yang sama, kecuali kalau bulan berganti.
  3. Tanggal pada setiap transaksi dicatat pada kolom pertama, pada bagian kolom yang kecil. Untuk setiap transaksi perlu ditulis tanggalnya meskipun dalam tanggal yang sama terjadi beberapa transaksi.
  4. Nama rekening yang didebet ditulis merapat ke pinggir sebelah kiri dalam kolom (2) dan jumlah pendebetan dimasukkan ke dalam sisi kiri (kolom 4) dalam kolom jumlah.
  5. Nama rekening yang dikredit ditulis dalam baris berikutnya pada kolom (2) dan ditulis sedikit menjorok ke sebelah kanan bila dibandingkan dengan nama rekening yang didebet. Jumlah pengkreditan dicatat pada sisi kanan (kolom 5) dalam kolom jumlah.
  6. Keterangan atau uraian dari transaksi ditulis dalam kolom (2) di bawah nama rekening yang dikredit. Sebaiknya keterangan atau uraian ditulis secara singkat tanpa mengabaikan informasi yang penting, sehingga dapat dipahami dengan jelas.

Jurnal

- Posted in Akuntansi by

Dalam buku besar pengaruh transaksi-transaksi perusahaan diklasifikasikan dan diringkas.

Di dalam praktek akuntansi yang sesungguhnya, pencatatan atas suatu transaksi atau sekelompok transaksi yang sama harus didasari oleh tanda bukti transaksi yang bisa berupa kwitansi, faktur pembelian, faktur penjualan, dan lain sebagainya.

Transaksi-transaksi tersebut kemudian dianalisis dahulu pengaruhnya terhadap elemen-elemen persamaan akuntansi (aktiva, utang, modal, pendapatan atau biaya).

Hasil analisis tersebut kemudian dicatat dalam suatu alat pencatatan yang disebut dengan jurnal, setelah itu baru dipindahkan ke rekening masing-masing di buku besar.

Dengan demikian jurnal merupakan penghubung antara transaksi dengan buku besar. Hubungan tersebut dapat dilukiskan dengan diagram sebagai berikut:

Pengertian Jurnal:

Jurnal adalah alat untuk mencatat transaksi perusahaan yang dilakukan secara kronologis (berdasarkan urutan waktu tertentu) dengan menunjukkan rekening yang harus didebet dan dikredit beserta jumlah rupiahnya masing-masing.

Setiap transaksi yang terjadi dalam perusahaan, sebelum dibukukan ke dalam buku besar, harus dicatat dahulu dalam jurnal.

Oleh karena itu buku jurnal sering disebut sebagai buku catatan pertama (book of original entry).

Beberapa Manfaat Pemakaian Jurnal adalah sebagai berikut:

  1. Jurnal merupakan alat pencatatan yang dapat menggambarkan pos-pos yang terpengaruh oleh suatu transaksi. Manfaat pemakaian jurnal akan sangat terasa, terutama apabila suatu transaksi mengakibatkan adanya beberapa pendebetan dan pengkreditan. Pengaruh transaksi semacam itu sukar diketahui melalui buku besar, tetapi terlihat jelas dalam buku jurnal.
  2. Jurnal juga merupakan alat pencatatan yang memberi gambaran secara kronologis, sehingga dapat memberi gambaran yang lengkap tentang seluruh transaksi perusahaan berdasarkan urutan-urutan terjadinya.
  3. Jurnal dapat dipecah-pecah menjadi beberapa jurnal khusus yang dikerjakan oleh beberapa orang secara bersamaan. Buku besar tidak mungkin dikerjakan oleh beberapa orang pada saat yang sama. Transaksi-transaksi dalam perusahaan besar biasanya cukup banyak jumlahnya sehingga diperlukan beberapa orang untuk menanganinya. Cara pencatatan transaksi secara langsung ke buku besar akan sulit dilakukan dalam perusahaan-perusahaan besar, karena dengan cara ini hanya satu orang saja yang dapat mengerjakan seluruh transaksi di buku besar.
  4. Jurnal menyediakan ruang lingkup yang cukup untuk keterangan transaksi. Sebaliknya ruang yang tersedia dalam kolom keterangan di rekening-rekening buku besar sangat terbatas, sehingga tidak dapat memuat keterangan yang cukup.
  5. Apabila transaksi dicatat secara langsung ke buku besar dan terjadi kesalahan dalam mencatatnya, maka letak kesalahan tersebut di buku besar akan sulit ditemukan, misalnya lupa mendebet atau mengkredit suatu rekening, dan melakukan pendebetan atau pengkreditan pada sisi rekening yang salah.

Jurnal dan rekening-rekening buku besar mempunyai peranan yang tidak dapat dipisahkan di dalam mencatat transaksi-transaksi perusahaan.

Jurnal mencatat pengaruh dari tiap-tiap transaksi perusahaan terhadap persamaan akuntansi secara kronologis, sedangkan rekening-rekening buku besar mengelompokkan dan meringkas pengaruh transaksi-transaksi terhadap aktiva, utang, modal, pendapatan, atau biaya.

Dengan demikian jurnal tidaklah menggantikan kedudukan buku besar.

Jurnal adalah buku pertama yang digunakan untuk mencatat transaksi pada saat transaksi terjadi, sedangkan buku besar merupakan buku terakhir di mana pendebetan dan pengkreditan dari jurnal dipindahkan, sehingg dapat dikumpulkan dalam rekening-rekening yang tepat.