Nama Rekening dalam Jurnal

- Posted in Akuntansi by

Transaksi-transaksi akuntansi yang terjadi dalam perusahaan harus dicatat dalam jurnal dengan menuliskan nama rekening yang didebet dan nama rekening yang dikredit sesuai dengan peraturan pendebetan dan pengkreditan yang telah dibahas dalam artikel sebelumnya.

Penggunaan nama rekening yang dipakai pada saat transaksi dicatat dalam jurnal harus sama dengan nama rekening yang digunakan ketika mencatat di buku besar.

Sebagai contoh misalnya perusahaan menerima uang, maka nama rekening yang harus digunakan adalah rekening Kas dan bukannya rekening Terima uang, perusahaan membeli peralatan kantor, maka nama rekening yang harus digunakan adalah Peralatan kantor dan bukannya Beli peralatan kantor.

Jurnal yang dibuat untuk suatu transaksi disebut ayat jurnal.

Antara ayat jurnal yang satu dengan ayat jurnal yang lainnya hendaknya diberi jarak satu baris sehingga jelas terlihat batas antara jurnal satu dengan yang lainnya.

Kolom nomor rekening tidak diisi pada saat menjurnal tetapi kolom ini diisi dengan nomor rekening setelah jurnal tersebut dicatat dalam rekening-rekening yang bersangkutan di buku besar.

Dengan cara demikian maka akan dapat diketahui mana jurnal-jurnal yang telah dibukukan ke buku besar dan mana jurnal-jurnal yang belum dibukukan ke dalam buku besar.

Jurnal

- Posted in Akuntansi by

Dalam buku besar pengaruh transaksi-transaksi perusahaan diklasifikasikan dan diringkas.

Di dalam praktek akuntansi yang sesungguhnya, pencatatan atas suatu transaksi atau sekelompok transaksi yang sama harus didasari oleh tanda bukti transaksi yang bisa berupa kwitansi, faktur pembelian, faktur penjualan, dan lain sebagainya.

Transaksi-transaksi tersebut kemudian dianalisis dahulu pengaruhnya terhadap elemen-elemen persamaan akuntansi (aktiva, utang, modal, pendapatan atau biaya).

Hasil analisis tersebut kemudian dicatat dalam suatu alat pencatatan yang disebut dengan jurnal, setelah itu baru dipindahkan ke rekening masing-masing di buku besar.

Dengan demikian jurnal merupakan penghubung antara transaksi dengan buku besar. Hubungan tersebut dapat dilukiskan dengan diagram sebagai berikut:

Pengertian Jurnal:

Jurnal adalah alat untuk mencatat transaksi perusahaan yang dilakukan secara kronologis (berdasarkan urutan waktu tertentu) dengan menunjukkan rekening yang harus didebet dan dikredit beserta jumlah rupiahnya masing-masing.

Setiap transaksi yang terjadi dalam perusahaan, sebelum dibukukan ke dalam buku besar, harus dicatat dahulu dalam jurnal.

Oleh karena itu buku jurnal sering disebut sebagai buku catatan pertama (book of original entry).

Beberapa Manfaat Pemakaian Jurnal adalah sebagai berikut:

  1. Jurnal merupakan alat pencatatan yang dapat menggambarkan pos-pos yang terpengaruh oleh suatu transaksi. Manfaat pemakaian jurnal akan sangat terasa, terutama apabila suatu transaksi mengakibatkan adanya beberapa pendebetan dan pengkreditan. Pengaruh transaksi semacam itu sukar diketahui melalui buku besar, tetapi terlihat jelas dalam buku jurnal.
  2. Jurnal juga merupakan alat pencatatan yang memberi gambaran secara kronologis, sehingga dapat memberi gambaran yang lengkap tentang seluruh transaksi perusahaan berdasarkan urutan-urutan terjadinya.
  3. Jurnal dapat dipecah-pecah menjadi beberapa jurnal khusus yang dikerjakan oleh beberapa orang secara bersamaan. Buku besar tidak mungkin dikerjakan oleh beberapa orang pada saat yang sama. Transaksi-transaksi dalam perusahaan besar biasanya cukup banyak jumlahnya sehingga diperlukan beberapa orang untuk menanganinya. Cara pencatatan transaksi secara langsung ke buku besar akan sulit dilakukan dalam perusahaan-perusahaan besar, karena dengan cara ini hanya satu orang saja yang dapat mengerjakan seluruh transaksi di buku besar.
  4. Jurnal menyediakan ruang lingkup yang cukup untuk keterangan transaksi. Sebaliknya ruang yang tersedia dalam kolom keterangan di rekening-rekening buku besar sangat terbatas, sehingga tidak dapat memuat keterangan yang cukup.
  5. Apabila transaksi dicatat secara langsung ke buku besar dan terjadi kesalahan dalam mencatatnya, maka letak kesalahan tersebut di buku besar akan sulit ditemukan, misalnya lupa mendebet atau mengkredit suatu rekening, dan melakukan pendebetan atau pengkreditan pada sisi rekening yang salah.

Jurnal dan rekening-rekening buku besar mempunyai peranan yang tidak dapat dipisahkan di dalam mencatat transaksi-transaksi perusahaan.

Jurnal mencatat pengaruh dari tiap-tiap transaksi perusahaan terhadap persamaan akuntansi secara kronologis, sedangkan rekening-rekening buku besar mengelompokkan dan meringkas pengaruh transaksi-transaksi terhadap aktiva, utang, modal, pendapatan, atau biaya.

Dengan demikian jurnal tidaklah menggantikan kedudukan buku besar.

Jurnal adalah buku pertama yang digunakan untuk mencatat transaksi pada saat transaksi terjadi, sedangkan buku besar merupakan buku terakhir di mana pendebetan dan pengkreditan dari jurnal dipindahkan, sehingg dapat dikumpulkan dalam rekening-rekening yang tepat.

Penyebab Ketidakseimbangan Neraca Saldo

- Posted in Akuntansi by

Apabila ditemukan ketidakseimbangan antara jumlah sisi debit dan jumlah sisi kredit pada neraca saldo yang dibuat oleh perusahaan, maka hal ini memberi petunjuk adanya kesalahan.

Berikut ini beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab terjadinya ketidakseimbangan tersebut adalah:

Kesalahan di dalam menyusun neraca saldo:

  • Salah menjumlahkan kolom saldo (rupiah).
  • Satu buah rekening atau lebih belum dicantumkan dalam neraca saldo, atau salah menuliskan jumlah saldonya.

Kesalahan di dalam menentukan saldo rekening:

  • Salah menghitung jumlah saldo.
  • Saldo debet suatu rekening ditulis sebagai saldo kredit, atau sebaliknya.
  • Salah menghitung jumlah pada salah satu sisi rekening.

Kesalahan mencatat transaksi di dalam buku besar:

  • Transaksi telah dicatat dengan jumlah pendebetan yang tidak sama besar dengan jumlah pengkreditan.
  • Pendebetan telah dicatat sebagai pengkreditan atau sebaliknya.
  • Lupa mencatat suatu pendebetan atau pengkreditan.

Dari uraian di atas tentang Penyebab Ketidakseimbangan Neraca Saldo dijelaskan bahwa catatan dalam buku besar harus dilakukan secara teliti dan hati-hati dengan menggunakan rekening yang tepat dan jumlah yang benar.

Jelaslah pula bahwa kesalahan dalam pencatatan di buku besar akan mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam penyusunan neraca saldo, dan selanjutnya laporan-laporan keuangan juga tidak akan memberikan gambaran yang benar.

Contoh-contoh Analisa Transaksi

- Posted in Akuntansi by

Pada postingan sebelumnya saya pernah menulis tentang Analisa Transaksi, dan kali ini saya akan memberikan sedikit Contoh-contoh Analisa Transaksi yang mungkin dapat membantu belajar anda khususnya dalam bidang Seputar Akuntansi.

TRANSAKSI 1

Pada awal bulan mei 2025. Andi mendirikan perusahaan angkutan yang diberi nama Perusahaan Angkutan Andi dan menanamkan modalnya dalam perusahaan tersebut, berupa uang tunai sebanyak Rp 800.000.000,00 dan peralatan kantor senilai Rp 50.000.000,00.

Analisis Transaksi:

  1. Rekening aktiva dan rekening modal bertambah.
  2. Nama rekening-rekening aktiva yang dipakai adalah Kas dan Peralatan Kantor, dan rekening modal adalah Modal-Andi.
  3. Debet: Kas sebesar Rp 800.000.000,00 karena aktiva bertambah, Debet: Peralatan Kantor Rp 50.000.000,00 karena aktiva bertambah, Kredit: Modal-Budi Rp 850.000.000,00 karena modal bertambah

TRANSAKSI 2

Perusahaan membeli 2 buah truk harganya masing-masing Rp 100.000.000,00 dan Rp 150.000.000,00 secara tunai.

Analisis Transaksi:

  1. Transaksi ini merupakan suatu perubahan dari aktiva yang satu ke aktiva yang lainnya.
  2. Nama rekening yang terpengaruh oleh transaksi adalah Kendaraan Bermotor dan Kas.
  3. Debit: Kendaraan Bermotor Rp 250.000.000,00 karena aktiva bertambah, Kredit: Kas Rp 250.000.000,00 karena aktiva berkurang.

TRANSAKSI 3

Perusahaan membayar sewa gedung bulan Oktober sebesar Rp 5.000.000,00

Analisis Transaksi:

  1. Transaksi ini menyebabkan biaya bertambah dan aktiva berkurang.
  2. Nama rekening yang terpengaruh oleh transaksi ini adalah Sewa Gedung dan Kas.
  3. Debit: Sewa Gedung Rp 5.000.000,00 karena biaya bertambah, Kredit: Kas Rp 5.000.000,00 karena aktiva berkurang.

TRANSAKSI 4

Dibeli barang-barang perlengkapan kantor seharga Rp 2.000.000,00 secara tunai.

Analisis Transaksi:

  1. Transaksi ini merupakan perubahan suatu aktiva menjadi aktiva yang lain.
  2. Nama rekening yang terpengaruh oleh transaksi ini adalah Perlengkapan Kantor dan Kas.
  3. Debit: Perlengkapan Kantor Rp 2.000.000,00 karena aktiva bertambah, Kredit: Kas Rp 2.000.000,00 karena aktiva berkurang.

TRANSAKSI 5

Dibeli sebidang tanah dari bapak Sungkono untuk tempat reparasi kendaraan seharga Rp 150.000.000,00. Dari harga tanah tersebut Rp 100.000.000,00 dibayar tunai dan sisanya akan dibayar secara bertahap dalam waktu 2 bulan.

Analisis Transaksi:

  1. Transaksi ini di satu pihak menyebabkan bertambahnya aktiva dan di lain pihak menimbulkan berkurangnya aktiva, serta timbulnya kewajiban.
  2. Nama-nama rekening yang terpengaruh oleh transaksi ini adalah aktiva Tanah, aktiva Kas, dan kewajiban yang disebut Utang Dagang.
  3. Debit: Tanah Rp 150.000.000,00 karena aktiva bertambah, Kredit: Kas Rp 100.000.000,00 karena aktiva berkurang, Kredit: Utang Dagang Rp 50.000.000,00 karena utang bertambah.

TRANSAKSI 6

Diterima pembayaran dari tuan Rudi sebesar Rp 10.000.000,00 untuk pengangkutan barang ke Jakarta.

Analisis Transaksi:

  1. Transaksi ini menyebabkan bertambahnya aktiva dan pendapatan bertambah.
  2. Nama-nama rekening yang terpengaruh oleh transaksi ini adalah aktiva Kas dan pendapatan yang disebut Pendapatan Angkutan.
  3. Debit: Kas Rp 10.000.000,00 karena aktiva bertambah, Kredit: Pendapatan Angkutan Rp 10.000.000,00 karena pendapatan bertambah.

TRANSAKSI 7

Dibeli secara tunai bensin dan oli seharga Rp 2.500.000,00.

Analisis Transaksi:

  1. Transaksi ini menyebabkan biaya bertambah dan aktiva berkurang.
  2. Nama-nama rekening yang terpengaruh oleh transaksi oleh transaksi ini adalah Biaya Bensin dan Oli dan rekening Kas.
  3. Debit: Biaya Bensin dan Oli Rp 2.500.000,00 karena aktiva bertambah, Kredit: Kas Rp 2.500.000,00 karena aktiva berkurang.

TRANSAKSI 8

Dibayar utang kepada bapak Sungkono sebesar Rp 25.000.000,00.

Analisis Transaksi:

  1. Transaksi ini menyebabkan aktiva berkurang dan kewajiban berkurang.
  2. Nama-nama rekening yang terpengaruh oleh transaksi ini adalah aktiva Kas dan kewajiban Utang Dagang.
  3. Debit: Utang Dagang Rp 25.000.000,00 karena kewajiban berkurang, Kredit: Kas Rp 25.000.000,00 karena aktiva berkurang.

TRANSAKSI 9

Dibayar gaji pegawai untuk periode dua minggu pertama bulan Mei sebesar Rp 7.500.000,00.

Analisis Transaksi:

  1. Transaksi ini menyebabkan biaya bertambah dan di lain pihak aktiva berkurang.
  2. Nama-nama rekening yang terpengaruh oleh transaksi ini adalah biaya Gaji Pegawai dan aktiva Kas.
  3. Debit: Gaji Pegawai Rp 7.500.000,00 karena biaya bertambah, Kredit: Kas Rp 7.500.000,00 karena aktiva berkurang.
Transaksi No.10 sampai dengan No.15 sama dengan transaksi-transaksi yang telah dianalisis dan dicatat di atas. Meskipun tidak dibahas satu persatu, tetapi pengaruhnya dapat dilihat pada rekening-rekening buku besar pada artikel berikutnya.

TRANSAKSI 10

Diterima Pendapatan Angkutan Rp 12.000.000,00 (lihat transaksi No.6)

  1. Debit: Kas Rp 12.000.000,00
  2. Kredit: Pendapatan Angkutan Rp 12.000.000,00

TRANSAKSI 11

Dibayar biaya telepon dan macam-macam biaya lainnya sebesar Rp 500.000,00. (lihat transaksi No.3, 7 dan 9).

  1. Debit: Macam-macam Biaya Rp 500.000,00
  2. Kredit: Kas Rp 500.000,00

TRANSAKSI 12

Diterima hasil angkutan Rp 10.000.000,00 (lihat transaksi No.6).

  1. Debit: Kas Rp 10.000.000,00
  2. Kredit: Pendapatan Angkutan Rp 10.000.000,00

TRANSAKSI 13

Dibayar gaji pegawai untuk periode dua minggu kedua bulan Mei sebesar Rp 7.500.000,00 (lihat transaksi No.9).

  1. Debit: Gaji Pegawai Rp 7.500.000,00
  2. Kredit: Kas Rp 7.500.000,00

TRANSAKSI 14

Diterima hasil angkutan Rp 12.000.000,00 (lihat transaksi No.6).

  1. Debit: Kas Rp 12.000.000,00
  2. Kredit: Pendapatan Angkutan Rp 12.000.000,00

TRANSAKSI 15

Dibeli bensin dan oli seharga Rp 3.000.000,00 (lihat transaksi No.7).

  1. Debit: Biaya Bensin dan Oli Rp 3.000.000,00
  2. Kredit: Kas Rp 3.000.000,00

TRANSAKSI 16

Andi (pemilik perusahaan) mengambil uang dari perusahaan sebanyak Rp 2.000.000,00 untuk keperluan pribadi.

Analisis Transaksi:

  1. Transaksi ini menyebabkan modal berkurang dan aktiva berkurang.
  2. Nama-nama rekening yang terpengaruh oleh transaksi ini adalah aktiva Kas dan rekening modal yang disebut rekening Prive.
  3. Debit: Prive Budi Rp 2.000.000,00 karena modal berkurang, Kredit: Kas Rp 2.000.000,00 karena aktiva berkurang.

Demikian sedikit Contoh-contoh Analisa Transaksi yang dapat saya sampaikan, mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi bagi anda khususnya yang sedang membuat Analisa Transaksi.

Proses Pembuatan Neraca Saldo

- Posted in Akuntansi by

Penyusunan neraca saldo dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  1. Pertama jumlahkan kolom debet dan kolom kredit semua rekening yang terdapat di buku besar.
  2. Tulis hasil penjumlahan tersebut pada kolom yang bersangkutan. Untuk rekening yang hanya berisi satu baris maka tidak perlu dilakukan penjumlahan karena jumlah kolom debet atau kredit sudah dapat ditentukan secara langsung.
  3. Hitung saldo semua rekening yang terdapat dalam buku besar, yaitu dengan cara mencari selisih jumlah kolom debet dan jumlah kolom kredit yang telah dilakukan pada butir 2 di atas. Untuk rekening yang hanya berisi catatan pada salah satu kolomnya saja, maka saldo rekening dapat langsung ditentukan dengan menjumlahkan kolom yang berisi catatan tersebut.
  4. Susun neraca saldo yang berisi nama semua rekening yang terdapat dalam buku besar beserta saldonya masing-masing yang telah ditentukan pada butir 3 di atas.

Salah satu tujuan dari pembuatan neraca saldo adalah untuk menguji keseimbangan (kesamaan) sisi debet dan sisi kredit.

Kecocokan sisi debet dan sisi kredit harus selalu dijaga.

Namun demikian apabila sisi debet dan sisi kredit sama jumlahnya, hal ini tidak berarti bahwa segala sesuatunya sudah benar, sebab ada kesalahan-kesalahan tertentu yang tidak akan terpengaruh terhadap keseimbangan debet dan kredit, yaitu:

  1. Transaksi tidak dicatat dalam buku besar, apabila ada transaksi yang tidak dicatat dalam buku besar, misalnya karena lupa atau sengaja tidak dicatat, maka keseimbangan saldo-saldo rekening tidak akan terganggu. Walaupun jumlah debet dan kredit sama besarnya, tetapi jumlah tersebut tidak menunjukkan angka yang benar.
  2. Kesalahan pencatatan "jumlah rupiah" dalam buku besar, apabila terjadi kesalahan dalam melakukan pencatatan jumlah rupiah, dan kesalahan tersebut terjadi pada waktu melakukan pendebetan maupun pengkreditan, maka kesalahan semacam ini tidak akan menganggu keseimbangan debet dan kredit. Kesalahan ini tidak akan nampak dalam neraca saldo karena jumlah sisi debet sama dengan jumlah sisi kreditnya.
  3. Pendebetan atau pengkreditan ke dalam rekening yang salah, pendebetan atau pengkreditan pada rekening yang salah tidak mengganggu keseimbangan jumlah debet dan jumlah kredit.
  4. Kesalahan yang saling menutupi, contoh kesalahan yang saling menutupi misalnya: rekening kas dicatat terlalu besar Rp 2.000.000,00 tetapi di lain pihak rekening utang dagang juga dicatat terlalu besar Rp 2.000.000,00 sehingga jumlah sisi debet dan sisi kredit tetap seimbang.

Neraca Saldo

- Posted in Akuntansi by

Pada sistem pembukuan berpasangan, pendebetan sebagai akibat suatu transaksi harus sama dengan pengkreditan dari transaksi yang bersangkutan.

Oleh karena itu dalam buku besar jumlah pendebetan-pendebetan pada rekening-rekening harus selalu sama dengan jumlah pengkreditan-pengkreditannya.

Sebagai alat untuk menguji kebenaran pendebetan dan pengkreditan dalam buku besar maka pada akhir periode tertentu harus dibuat Neraca Saldo.

Neraca saldo adalah daftar yang berisi saldo-saldo dari seluruh rekening yang ada di dalam buku besar pada suatu saat tertentu.

Neraca saldo dapat dibuat setiap saat setelah pencatatan suatu transaksi.

Akan tetapi, untuk lebih praktisnya neraca saldo biasanya dibuat pada akhir tiap-tiap bulan.

Neraca saldo berisi nama-nama rekening yang terdapat dalam buku besar beserta jumlah saldonya masing-masing.

Nama-nama rekening ditulis dengan urut-urutan yang sama seperti yang dilakukan di dalam buku besar dan jumlah rupiahnya harus dimasukkan ke dalam kolom yang sesuai.

Kolom saldo debet ditempatkan di sebelah kiri dan kolom saldo kredit di sebelah kanan.

Judul neraca saldo pada bagian atas baris pertama berisi nama perusahaan, baris kedua tulisan neraca saldo, dan pada baris ketiga berisi tanggal pembuatan neraca saldo.

Adapun tujuan dari dibuatnya Neraca Saldo adalah:

  1. Untuk menguji kesamaan debet dan kredit di dalam buku besar.
  2. Untuk mempermudah penyusunan laporan keuangan.

Neraca saldo yang disusun pada akhir bulan pertama sejak perusahaan didirikan merupakan ringkasan dari catatan-catatan selama satu bulan.

Sedangkan neraca saldo yang disusun pada akhir bulan-bulan berikutnya merupakan ringkasan catatan selama beberapa bulan.

Misalnya neraca saldo perusahaan angkutan Andi pada akhir bulan Desember 2025 merupakan ringkasan catatan-catatan selama bulan Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, Nopember, dan Desember (perusahaan angkutan Andi baru didirikan pada awal bulan Mei 2025).

Jadi apabila pada bulan Desember neraca saldo angkutan Andi hanya menyangkut data-data transaksi pada bulan Desember saja maka informasi dalam neraca saldo tidak akan bermanfaat.

Laporan Perubahan Posisi Keuangan (Statement of Changes in Financial Position)

- Posted in Akuntansi by

Laporan perubahan posisi keuangan berguna untuk :

(1) meringkas kegiatan-kegiatan pembelanjaan dan investasi yang dilakukan oleh perusahaan, termasuk jumlah dana yang dihasilkan dari kegiatan usaha perusahaan dalam tahun buku yang bersangkutan, dan

(2) melengkapi penjelasan tentang perubahan-perubahan dalam posisi keuangan selama tahun buku yang bersangkutan.

Laporan perubahan posisi keuangan dapat disusun berdasarkan perubahan-perubahan kas atau ekuivalennya, atau dapat juga berdasarkan perubahan-perubahan dalam modal kerja neto (net working capital) yaitu aktiva lancar dikurangi utang lancar.

Apabila dasarnya adalah perubahan-perubahan dalam modal kerja neto, maka disebut all financial recources concept.

Walaupun laporan ini didasarkan pada perubahan dalam modal kerja neto, aktivitas pembelanjaan atau investasi yang penting harus ditunjukkan meskipun tidak mempengaruhi modal kerja.

Contoh transaksi-transaksi yang tidak mempengaruhi modal kerja misalnya pengeluaran saham untuk membeli aktiva tetap yang lain, konversi utang jangka panjang menjadi modal saham dan lain-lain.

Isi laporan perubahan posisi keuangan biasanya dipisahkan menjadi dua bagian, yaitu yang menunjukkan sumber-sumber dan bagian yang menunjukkan penggunaan dana.

Analisa Transaksi

- Posted in Akuntansi by

Agar transaksi-transaksi yang terjadi dapat dicatat dalam rekening-rekening yang benar, diperlukan analisa terhadap transaksi-transaksi itu untuk mengetahui akibat dari transaksi tadi.

Dalam melakukan analisa ini dicari akibat dari suatu transaksi, kepada paling sedikit dua rekening karena sistem yang digunakan adalah pembukuan berpasangan (double entry).

Atau dengan kata lain, analisa transaksi ini dilakukan dalam kesamaan debit dan kredit.

Transaksi yang terjadi dalam suatu perusahaan dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu:

  • Transaksi-transaksi ekstern, yaitu transaksi-transaksi yang terjadi dengan pihak luar perusahaan, antara lain penjualan, pembelian, pengeluaran dan penerimaan uang.
  • Transaksi-transaksi intern, yaitu pembagian kembali biaya-biaya dalam perusahaan, seperti depresiasi aktiva tetap, pemakaian bahan baku untuk produksi, tansfer dari barang dalam proses ke barang jadi dan lain-lain.

Biasanya transaksi-transaksi ekstern akan lebih mudah dianalisa karena sebagian besar dari transaksi-transaksi itu akan mengakibatkan penambahan atau pengurangan harta perusahaan.

Alokasi Pajak

- Posted in Akuntansi by

Pajak penghasilan yang dikenakan atas penghasilan yang diperoleh dilaporkan mengurangi penghasilan dalam laporan rugi laba.

Karena penghasilan dalam suatu periode itu terdiri dari dua unsur yaitu penghasilan usaha yang rutin dan penghasilan luar biasa, maka beban pajaknya juga akan dibagikan kepada elemen-elemen yang rutin dan luar biasa.

Di dalam laporan rugi laba dipakai susunan all inclusive, sehingga elemen-elemen tidak biasa juga dilaporkan di situ, oleh karena itu beban PPh semuanya akan dilaporkan dalam laporan rugi laba.

Apabila kedua jenis penghasilan tersebut (rutin dan luar biasa) keduanya positif, maka beban pajaknya akan dialokasikan dengan perbandingan jumlah penghasilan.

Tetapi apabila salah satu penghasilan tersebut jumlahnya negatif (rugi), maka penghasilan yang positif akan dibebani dengan pajak yang lebih besar dari sesungguhnya dikenakan.

Kelebihan ini akan diimbangi dengan pajak kredit dari penghasilan yang negatif.

Laporan rugi laba dapat juga disusun dengan susunan current operating performance, di mana elemen-elemen tidak biasa tidak masuk di dalamnya tetapi dilaporkan dalam laporan laba tidak dibagi.

Oleh karena itu beban PPhnya juga dialokasikan pada kedua laporan tersebut.

Pajak untuk hasil usaha (penghasilan) yang rutin dilaporkan mengurangi penghasilan dalam laporan rugi laba, sedangkan pajak untuk elemen tidak biasa akan diperhitungkan dalam laporan laba tidak dibagi.

Apabila salah satu penghasilan tadi (rutin atau tidak biasa) saldonya negatif, maka perlakuan pajaknya sama dengan cara yang ditempuh dalam cara all inclusive.

Pajak penghasilan yang dibebankan ke dalam laporan rugi laba harus dipisahkan perhitungannya dengan utang pajak yang akan dilaporkan dalam neraca, karena pph yang menjadi beban dalam laporan rugi laba itu merupakan hasil perkalian tarif dengan jumlah keuntungan, sedangkan utang pajak, di dalamya mungkin termasuk beban pajak untuk tahun-tahun sebelumnya di mana beban-beban seperti ini (pajak tahun-tahun lalu) harus dibebankan kepada laporan laba tidak dibagi.

Jika laporan rugi laba disusun dengan cara all inclusive maka koreksi pajak tahun-tahun lalu dilaporkan dalam laporan rugi laba dan dimasukkan dalam kelompok elemen tidak biasa.

Cara-cara yang disebutkan di atas itu didasarkan pada konsep bahwa: "pajak harus dilaporkan bersama dengan transaksi-transaksi yang menyebabkan timbulnya pajak tadi", sehingga pajak atas penghasilan rutin dibebankan pada penghasilan rutin dan pajak atas elemen-elemen tidak biasa dibebankan pada elemen-elemen tidak biasa.

Laporan Rugi Laba

- Posted in Akuntansi by

Laporan rugi laba adalah suatu laporan yang menunjukkan pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya dari suatu unit usaha untuk suatu periode tertentu.

Selisih antara pendapatan-pedapatan dan biaya merupakan laba yang diperoleh atau rugi yang diderita oleh perusahaan.

Laporan rugi laba yang kadang-kadang disebut laporan penghasilan atau laporan pendapatan dan biaya merupakan laporan yang menunjukkan kemajuan keuangan perusahaan dan juga merupakan tali penghubung dua neraca yang berurutan.

Dari uraian di atas dapat dilihat pentingnya laporan rugi laba yaitu sebagai alat untuk mengetahui kemajuan yang dicapai perusahaan dan juga mengetahui berapakah hasil bersih atau laba yang didapat dalam suatu periode.

Sebelum sampai pada pembicaraan mengenai susunan laporan rugi laba perlu diketahui terlebih dahulu beberapa istilah yang digunakan dalam laporan ini. Definisi-definisi berikut diambilkan dari Statement of Financial Accounting Concepts Nomor 6 yang dikeluarkan oleh FASB.

  • Pendapatan (revenue), adalah aliran masuk atau kenaikan lain aktiva suatu badan usaha atau pelunasan utangnya (atau kombinasi keduanya) selama suatu periode yang berasal dari penyerahan atau pembuatan barang, penyerahan jasa, atau dari kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama badan usaha.
  • Rugi (loss), adalah penurunan modal (aktiva bersih) dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempengaruhi badan usaha selama suatu periode kecuali yang timbul dari biaya (expense) atau distribusi pada pemilik. Contohnya adalah rugi penjualan surat berharga.
  • Harga perolehan (cost), adalah jumlah uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul untuk memperoleh barang atau jasa. Jumlah ini pada saat terjadinya transaksi akan dicatat sebagai aktiva. Misalnya pembelian mesin, dan pembayaran uang muka sewa (persekot biaya). Dalam akuntansi biaya, cost dapat juga berarti harga pokok atau biaya produksi yang dikeluarkan untuk membuat barang.